Orang Dekat Putra Mahkota Saudi Pernah Bahas Plot Bunuh Jenderal Iran

Riyadh – Sejumlah pejabat intelijen Arab Saudi yang dekat dengan putra mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan pernah membahas rencana pembunuhan musuh-musuh dari Iran. Pembahasan dilakukan tahun lalu, sebelum pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di Turki.

Seperti dilansir media lokal Turki, Hurriyet Daily News, Selasa (13/11/2018), informasi itu dilaporkan oleh media ternama Amerika Serikat (AS), New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah sumber anonim dalam laporannya pada Minggu (11/11) waktu setempat.

Menurut sumber-sumber yang dikutip NYT, para pejabat intelijen Saudi yang dekat dengan MBS pernah bertanya pada sekelompok kecil pengusaha berlatar belakang intelijen, tahun lalu, soal rencana menggunakan jasa sejumlah perusahaan swasta untuk membunuh musuh-musuh Saudi dari Iran.

Dituturkan tiga sumber yang memahami pembahasan tersebut, pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan intelijen Saudi pada saat MBS tengah mengonsolidasikan kekuasaan dan mengarahkan para penasihatnya untuk memperluas operasi militer dan intelijen di luar wilayah Saudi.

Saat pembahasan dilakukan, diketahui MBS masih menjadi Wakil Putra Mahkota dan menjabat Menteri Pertahanan Saudi. MBS ditunjuk menjadi Putra Mahkota Saudi pada Juni 2017 setelah Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud memutuskan untuk mencopot Pangeran Mohammed bin Nayef al-Saud dari seluruh posisinya termasuk posisi Putra Mahkota Saudi.

NYT menyebut pembahasan itu dilakukan dalam pertemuan antara pejabat intelijen Saudi dan para pengusaha di Riyadh, Saudi pada Maret 2017.

Dengan kata lain, pembahasan dilakukan lebih dari setahun sebelum Khashoggi tewas dibunuh di dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. Tim intelijen Saudi, dengan beberapa orang disebut terkait MBS, diduga kuat ada di balik pembunuhan Khashoggi yang menuai kecaman global itu.

NYT menyebut bahwa para pejabat Saudi menggambarkan kematian Khashoggi sebagai pembunuhan liar yang diperintahkan seorang pejabat yang telah dipecat. Namun pejabat yang dimaksud, Mayor Jenderal Ahmed al-Assiri, diketahui ikut hadir pertemuan Maret 2017 itu.

Dalam pembahasan itu, Jenderal Al-Assiri disebut sempat menyinggung soal pembunuhan Qassim Suleimani, komandan Pasukan Quds Garda Revolusioner Iran dan seorang pria Iran lainnya yang tidak disebut identitasnya, yang dianggap sebagai musuh Saudi.

Dibahas juga dalam pertemuan itu soal rencana senilai US$ 2 miliar dalam menyewa jasa agen intelijen swasta untuk menyabotase perekonomian Iran. Para pengusaha dengan latar belakang intelijen itu disebut memandang rencana sabotase Iran itu sebagai sumber kucuran uang yang menguntungkan.

Terlepas dari itu semua, NYT menyebutkan dalam laporannya bahwa pembahasan intelijen Saudi soal menyewa jasa pembunuh bayaran untuk musuh dari Iran itu ‘mengindikasikan bahwa para pejabat tinggi Saudi telah mempertimbangkan pembunuhan sejak awal takhta Pangeran Mohammed (MBS-red)’.

Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Saudi terkait laporan ini.

Saksikan juga video ‘Hasil Penyelidikan Khashoggi Diklaim ‘Loloskan’ Putra Mahkota’:

[Gambas:Video 20detik]

(nvc/ita)